Secangkir Teh Untuk Suamiku
“Sekarang aku cuma ingin kamu tahu. Aku tidak main-main waktu peluk kamu, saat aku menghafal cara kamu mengaduk kopi. Waktu aku menghafal aroma sampo kamu. Aku tahu aku bukan laki-laki sempurna, tapi apa yang aku rasakan ke kamu nyata, Rin.”
Rindu mengatupkan bibir. Matanya mulai berkaca.
“Kalau nyata,” bisiknya, “kenapa rasanya seperti aku cuma selipan?”
Janu tersenyum, getir. Lalu mengangkat tangan, menyentuh pipi Rindu dengan sangat ringan, seperti menyentuh luka yang belum boleh dibuka.
“Aku yang salah. Karena terlalu takut kehilangan, aku malah menyimpan kamu di ruang yang tidak layak. Tapi mulai sekarang, aku janji tidak akan sembunyi lagi.”
Hot Chapters