Sang Penakluk Dewa
Ketua Kantaka langsung terbatuk mendengarnya, sementara Ki Luhung tersenyum lebar menatap Lintang.
“Sial! Ucapanmu sungguh bagaikan petir bagiku bocah, aku sendiri sudah lama mengejar keabadian. Tapi sayang, tingkat itu terlalu jauh bagi manusia sepertiku. Namun setelah mendengarkan penuturanmu, sepertinya aku akan melupakan cita-cita itu. Hahaha,” ungkap Ketua Kantaka.
“Hahaha, sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa mencapai tingkat itu, Kantaka. Tujuanmu sangat buruk karena keabadaian bagimu hanya untuk melihat tubuh para gadis,” Ki Luhung tertawa.