Istri Kedua Sang Presdir
Ia mencari kata-kata yang tepat, kata-kata yang bisa meredakan badai ini, namun otaknya terasa kosong.
“Kalau saya bisa memilih,” katanya akhirnya, suaranya tenang namun jelas, berusaha menjaga kendali agar tidak terpengaruh oleh amarah Keandra, “saya tidak akan pernah mau kenal Anda, apalagi kakek Anda.”
Keandra tertawa sinis. Tertawa pendek yang tak mengandung sedikit pun humor, lebih mirip desisan ular yang siap menyerang.
“Kalimat klasik dari wanita munafik,” desisnya, bibirnya membentuk seringai jijik.
Hot Chapters