DINGINNYA SUAMIKU
Kaniya sesekali mengusap perutku.
"Alhamdulillah, Ni. Kamu kapan nyusul? Buruan minta dihalalalin sama Mas Adam," sahutku sehingga membuat Kaniya tersipu.
"Doain, ya, Nda. Semoga kami berjodoh sampai pelaminan," ucapnya dengan senyum
"Aamiin!" Aku mengucap dengan keras, membuat Kaniya menyenggol lenganku.
Setelahnya, kami tertawa bersama. Namanya sahabat, pasti lebih banyak absurd daripada waras. Itulah seninya. Sahabat akan selalu ada di kala susah dan senang, tapi lebih banyak senangnya.
Hot Chapters