Ada satu momen yang selalu terngiang-ngiang di kepala sampai sekarang. Waktu itu umurku 12 tahun, baru kalah lomba menggambar. Pulang sambil menangis, Ibu malah tersenyum dan bilang, 'Kalah itu cuma tanda kamu belum sampai di garis finis, bukan akhir jalan.' Kata-kata itu kayak suntikan semangat. Aku jadi nggak takut gagal lagi, karena Ibu selalu ngajarin bahwa proses lebih penting dari hasil. Sekarang setiap kali mentok bikin desain grafis, kalimat Ibu itu yang bikin aku terus nyoba.
Hal lain yang bikin greget adalah cara Ibu ngomong 'I love you' tanpa kata-kata. Setiap berangkat kuliah, pasti ada bekal nasi goreng special di tas. Kalau aku sakit, tangan dinginnya selalu ada di dahi. Itu bahasa kasih sayang yang lebih keras dari teriakan. Aku sadar, cinta Ibu itu nggak perlu dramatis, tapi konsisten seperti matahari yang selalu terbit.