Kinari dan Benang Waktu
Kata-kata meluncur dari bibir, lalu mati di udara, seolah dihirup oleh kekosongan itu.
Kael, yang suaranya nyaris hanya sehembus napas, tetap terdengar bagi Kinari seperti gelegar petir.
Ia berbalik, matanya berkilat marah. "Bisikmu terlalu keras, Kael," ucapnya, hampir seperti menghardik, namun suaranya sendiri bagai dentuman bagi telinganya.
Di sana, riddle itu bukan sekadar ujian akal—ia adalah ujian jiwa.
Bab Populer