Obsesi Suci
Tanpa menoleh lagi, dia berlari keluar pintu, meninggalkanku sendirian yang tenggelam dalam penyesalan mendalam.
Aku duduk sendirian di sana. Rasa sakit di pipiku mulai memudar, tetapi siksaan di dalam batin justru semakin kuat.
Aku tahu, aku tidak hanya menyakiti Marsha, tapi juga telah menghancurkan Tina.
Saat ini, mungkin hanya alkohol yang bisa mematikan rasa sakit ini.
Aku melangkah masuk ke sebuah bar yang ramai. Lampu di sana remang-remang, suara orang-orang bersahutan, dan dentuman musik merangsang saraf-sarafku.