Isela: Putri yang Terbuang
Ketakutan-ketakutan muncul dikepalanya, memperparah kebingungan Isela karena takdir tidak memberikan satupun pilihan yang layak.
“Ibuku ada diluar kota, kami terpisaah karena suatu alasan,” cerita Isela dengan suara bergetar menelan kesedihan. “kami akan kembali bertemu lagi setelah nanti aku lulus sekolah.”
Suara klakson terdengar berkali-kali di didepan, menyadarkan Isela bahwa itu adalah Sanders yang meminta gerbang rumah untuk dibuka.
Teburu-buru Isela mengambil sisa kue dipiring dan menghabiskannya tanpa sisa. “Tuan Sanders pulang, aku harus pergi. Terima kasih atas kuenya Jach.”