KAU MENDUA AKU PUN SAMA
“Luka kecil gimana? Ini pasti sakit,“ ucapku sambil menatap lukanya yang menurutku lumayan parah.
“Itu nggak sakit, Khai,“ katanya sambil menatapku lekat-lekat.
Aku mengernyit tak percaya.
“Yang sakit bukan itu, Khai. Tapi ini,“ katanya sambil menangkap tanganku dan meletakannya di dada bidangnya.
Aku berdecak dan pura-pura melotot.
“Simpan dulu gombalannya. Kita obati dulu lukamu.“
Aku menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan, lalu menatapnya.
“Apa ada kotak P3K di sini?“
“Tidak ada. Adanya di dekat dapur.“ Aric menjawab datar.
“Kalau begitu biar aku ambil dulu,“ sahutku sambil beranjak berdiri. Tapi dengan cepat ia menahan tangan ini.
Hot Chapters