Petaka Dua Garis
Karena pesonanya kelewat menyilaukan sehingga membuat mulut ini hanya bisa terkatup rapat.
Aku mengangguk pelan. Mengiyakan tawarannya tadi. Dan lelaki itu pun cepat bergerak. Mengambil gelas yang tersusun rapi dalam lemari kaca besar yang berada di samping kulkas empat pintu pada pojok sebelah kanan ruang dapur ini. Ternyata Azka sudah hapal dengan penjuru rumah ini, pikirku. Cekatan sekali geraknya.
Sigap, Azka mengambil teh dan gula yang tersimpan pada kabinet kitchen set. Bunyi air dari dispenser yang kami taruh di atas meja mini bar, membuat suasana hening menjadi pecah sesaat.