Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Malam Pernikahan Yang Terenggut

Malam Pernikahan Yang Terenggut

Ia berlalu begitu saja, membiarkan Dira memilih sendiri ukuran serta merk matras serta alasnya. Nadiya berjalan menuju aneka macam kursi serta meja yang berbentuk lucu. Beberapa model dengan warna tertentu membuat tatanan furniture itu tampak menarik dan memikat hati pengunjung, termasuk Nadiya. Ia sedang melihat kursi plastik bermotif anyaman yang berwarna-warni, ditata berjajar dengan mejanya. "Kamu suka? Mau ditaruh mana?" Dira menyusul Nadiya. Ia memperhatikan sang istri dari kejauhan dan segera menghampiri setelah urusan kasur selesai.
5.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut

Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut

Pantatku mulai mati rasa. Aku menggeser kursiku sedikit ke depan mendekat ke meja supaya posisiku lebih nyaman lalu aku menggesernya lagi. Sedikit lagi. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Kursi ini sudah tua. Mungkin sudah bertahun-tahun tidak diganti. Kakinya terbuat dari besi tipis, dan bantalannya sudah mulai kempes di beberapa bagian. Aku terlalu berat untuk kursi ini.
106.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 142 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
CEO Dingin yang Terpaksa Menikahiku

CEO Dingin yang Terpaksa Menikahiku

Joknya terasa empuk dan menopang tubuhnya dengan sempurna, memberikan keleluasaan untuk bersantai. “Kita lihat sejauh apa yang bisa dilakukan seorang Cheryl Anindita selain menangis,” gumam Bara seraya menekan tombol kecil di samping kursinya, mengatur posisi sandaran agar lebih miring. Sistem pijat kursi segera aktif, memberikan tekanan lembut pada punggungnya, meredakan ketegangan setelah hari yang melelahkan.
9.8121.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.3K kali sebagai kursi tanpa sandaran
Tampilkan Ulasan (32)
Baca
+Pustaka
Indy Shinta
Maaf, sempat cuti nulis krn fokus mengurusi paksu yg sdg pemulihan pasca pendarahan di jantung. Makasih ya sudah setia menantikan Bara & Cheryl. Sudah update lagi yaa. Sedikit lagi menuju tamat nih :)
Miumiu Dara
menunggu bab selanjutnya & nanti di bab itu ada tulisan: sy terima nikah & kawinnya Cherry Anandita... (semoga dpt suami yg bener sayang, setia& cinta sm Cherryl), hayo dong Thor kasih bab yg banyak, kok klo weekend kadang ga di upload bab baru. semoga Thor sekeluarga sehat
Baca Semua Ulasan
Berondong Posesifku

Berondong Posesifku

"Boleh juga." "Oke! Pesen dua, ya?" tanya Arma lalu memasukkan ke keranjang. "Kalau kursi, harus nyaman. Kalau enggak, punggung sakit." "Lo bebas pilih kursi semahal apapun." Arma tidak begitu menggubris. Dia mencari kursi dengan sandaran agak tinggi. Hingga menemukan sebuah kursi berwarna hitam. "Ini boleh?"
1.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
WRONG TURN

WRONG TURN

Satu-satunya indikasi hanyalah napasnya pendek dan lebih cepat. Gabe datang dari lantai atas, membawa kursi yang lebih tepat untuk situasi ini, dengan punggung kursi terbuat dari kayu sungguhan dan kaki yang lebih panjang dari pada kursi desainer pendek yang ada di sini. “Aku punya satu.” Dia menaruh kursi itu di antara sofa dengan sedikit suara kayu menyentuh lantai terdengar yang membuat Tennyson kaget.
1014.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 570 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
Rahim Pengganti

Rahim Pengganti

Rasa cinta yang dulu hanya untuk Dyandra seorang, telah mulai terbagi untuk wanita lain bernama Cersey Avriani. Arka menyenderkan punggung ke sandaran kursi kebesarannya. Kursi yang dibuat khusus dengan bahan kulit terbaik dan berharga puluhan juta. Matanya terpejam rapat. Bayangan Dyandra silih berganti dengan Cersey. Entah kenapa, tubuh telanjang sang wanita dengan perut buncitnya terlihat sangat sensual. Ia masih bisa merasakan kenyalnya buah dada yang tadi diremas kencang.
9.842.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
Sampai Kau Ingat Aku

Sampai Kau Ingat Aku

Ia bisa merasakan binar penasaran, keraguan, dan bahkan ketidakpedulian dari mata-mata itu. Ruang rapat itu tergolong standar, didominasi oleh meja panjang berbentuk oval dengan kursi-kursi kulit berwarna hitam. Di ujung meja, sebuah layar proyektor besar menampilkan slide presentasi yang masih kosong, menunggu untuk diisi dengan angka-angka pencapaian. Sandra berjalan angkuh menuju kursinya di kepala meja. Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar, lalu menatap Zea yang masih berdiri kaku di dekat pintu.
101.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
VIDEO PERNIKAHAN SUAMIKU

VIDEO PERNIKAHAN SUAMIKU

“Untuk duduk konsumen aku lah, Tan.” “Halah, tinggal ngedeprok di lantai juga tidak apa-apa kok, enggak usah pakai kursi-kursi segala. Terlalu exclusive untuk seorang konsumen baju jahitan.” “Terserah kamu saja lah, Tan. Tetap akan aku bawa baik disetujui atau tidak!” tegasku. “Sudah si, enggak usah ribut. Tinggal beli lagi aja, loh, Bu. Kursi jati kayak gitu mah sudah enggak model,” sahut Reni.
10146.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.6K kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Empat kursi besar berdiri di tengah ruangan, masing-masing tertulis nama-nama yang tidak sepenuhnya dikenal: Narator Pertama Penjaga Struktur Lama Penulis Tanpa Tinta Frasa Awal Namun keempat kursi itu kosong. “Ini jebakan,” kata Kai pelan. “Tidak ada yang duduk di sana karena kita yang diminta untuk memilih tempat duduk masing-masing.” Kapten Arya mengangkat alis. “Atau mungkin... kita diminta memutuskan siapa yang pantas menduduki kursi-kursi itu selanjutnya.” Lena berjalan perlahan ke depan, lalu membaca teks yang terukir di lantai marmer di bawah kursi kosong.
2.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 61 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
Kultivator Jiwa Modern

Kultivator Jiwa Modern

perintah Ketua Dewan. Dua prajurit berzirah perak maju, menggeser sebuah kursi tua dari sisi aula. Kursi itu sederhana bentuknya, tapi ukirannya penuh simbol kuno. Kayu gelapnya memancarkan aura aneh, seolah menyimpan gema emosi masa lalu. Risa terperanjat. “Itu... Kursi Resonansi.”
1.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai kursi tanpa sandaran
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status