Tanah Larangan: Jangan Bawa Pulang Apa pun
Dari kegelapan di luar pendopo, tampak rombongan besar makhluk-makhluk aneh beriringan mendekat:
Ular-ular besar melilit pepohonan, matanya merah membara,
Bayangan berwujud anjing setinggi manusia, berjalan dengan langkah mengancam,
Sosok-sosok gelap tanpa bentuk pasti, hanya kabut yang berdenyut-denyut seperti jantung.
Bu Darmi menarik napas panjang.
Malam ini, ia adalah benteng terakhir.
"Reza... cepatlah kembali..." bisiknya pelan, sebelum menutup mata, dan mulai membaca doa pelindung dengan seluruh kekuatan jiwanya.
Di langit yang gelap, kilatan petir merah mengoyak kegelapan, pertanda bahwa malam itu, perang antara dunia manusia dan dunia lelembut benar-benar dimulai.
Hot Chapters