Pernikahan Penuh Luka
Beberapa potong baju milikku yang warnanya sudah tak secerah dulu, baju Arka yang sebagian sudah mulai kekecilan, tersusun rapi meski sederhana.
Bara memperhatikan isinya dengan saksama. Ia membalik beberapa baju, seolah ingin memastikan sesuatu. Tidak ada gaun mahal, tidak ada pakaian bermerek. Semua terlihat biasa, bahkan sangat sederhana. Setelah beberapa saat, ia menutup kembali lemari itu. Tangannya terdiam sejenak di gagang lemari, seolah pikirannya sedang berperang dengan perasaannya sendiri.
“Aisyah,” panggilnya pelan.