Pesugihan Kandang Bubrah
Setiap tarikan napasnya terasa berat, seperti menelan kepulan asap pekat.
“Fokus, jangan lihat ke belakang!” bentak Mbah Mijan dengan suara serak dan tajam, seperti cambuk yang mendarat di punggung.
Arif menggigit bibirnya, menahan dorongan untuk menoleh. Namun, ada sesuatu di balik punggungnya, desiran langkah yang terlalu lembut untuk disebut manusia. Sekilas suara tawa lirih terdengar, menyelinap di antara hembusan angin.