Hati Biru Affa
Aku menghembuskan nafas.
“Dari aku melihat, dirimu as clear as day, Rara,” komentarku. Rahima terkekeh.
“Secerah matahari untuk bisa dilihat ya? Keknya kita sama-sama masih belum bisa melihat satu sama lain, Fafa. Aku gak ingin memaksakan, karena aku tidak sanggup melakukannya. Mungkin ada yang bisa meraihmu dan membuatmu sadar,” balas Rahima diikuti dengan senyumannya. Setelah dia mengucapkannya, seakan posisi kami seperti jauh, meski kami berhadapan di satu meja makanan ini. Mungkin ada benarnya, bahwa aku dan Rahima, terlepas dari ikatan kembar kami, tidak bisa melihat satu sama lain. Inilah kenyataannya.
Hot Chapters