Bias Cinta
Wanita itu justru memberi tatapan datar.
“Mandi,” titah Cinta tetapi dengan intonasi yang datar dan memeluk erat gulingnya.
“Ak–”
“Nggak usah minta dimandiin karena aku baru rebahan,” putus Cinta masih memasang wajah datar, “pinggangku pegeeel.”
“Aku bisa pijitin.”
“Aku sudah tau isi kepalamu.”
Bias tertawa pelan. “Beneran kupijitin.”
“Nggak,” tolak Cinta menggeleng, “aku sudah nggak bisa kamu tipuuu. Jadi, sekali enggak … tetap ENG-NGGAK!””