Pesugihan Kandang Bubrah
gumamnya, suara itu nyaris tenggelam dalam gemuruh hujan.
Ketika Arif kembali ke dalam rumah, malam sudah larut. Tubuhnya terasa remuk, tetapi pikirannya tidak bisa berhenti bekerja.
"Ini semua demi mereka... demi Lila... demi Jatinegara..." bisiknya, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, bayangan janji-janji Mbah Mijan terus menghantui pikirannya.
Arif berjalan melewati lorong-lorong rumah yang terasa semakin panjang. Setiap pintu yang dia lewati membawa desiran angin dingin yang berbisik.