Lirik 'Santri Pekok' versi sholawat sebenarnya adalah bentuk satire sekaligus kritik sosial yang dibungkus dengan humor. Awalnya, lagu ini viral karena kontennya yang nyeleneh, tapi ketika diubah menjadi sholawat, ada nuansa ironi yang dalam. Sholawat sendiri biasanya dipakai untuk memuji Nabi, sementara lirik aslinya justru bercerita tentang kelakuan santri yang 'pekok' (kurang ajar). Ini seperti cermin bahwa di balik kehidupan pesantren yang sakral, ada sisi humanis dan lucu yang bisa diterima dengan cara berbeda.
Yang menarik, adaptasi ke sholawat justru membuat lagu ini lebih mudah 'dicerna' oleh kalangan tradisional. Alih-alih dianggap menghina, justru jadi media refleksi. Beberapa komunitas santri malah memakai versi sholawat ini untuk nongkrong santai, menunjukkan bahwa agama dan pop culture bisa bertemu tanpa harus saling meniadakan. Toh, pada akhirnya, ini cuma soal ekspresi—kadang kita perlu tertawa pada diri sendiri.