BUKAN MENANTU KAYA
“Mau makan apa lanjut tidur?“ tanyanya.
“Mau lanjut tidur, tapi pinggangku sakit, Mas,“ keluhku seraya memegangi pinggang. Mas Hasan menyuruhku tidur menyamping. Tangannya mengusap pinggangku dengan lembut seraya membaca shalawat nabi.
**
Suara anak-anak yang bersahutan membaca kalam-kalam Allah menjadi candu untukku. Kuusap perut sembari memanggil murid sesuai dengan absen.
“Bu, aku baru hafal dua puluh ayat,“ kata Nadzira, salahsatu murid unggul di TPA ini.
“Enggak apa-apa. Ayo dimulai!“ titahku. Dia mulai menyetorkan hafalannya. Aku menyimak sambil terus mengusap perut. Kuketuk meja saat ada bagian ayat yang terlewat.
“Fa ammal insaanu idzaa mablatahu robbohuu fa akromahu, Coba ulangi.“ A
Bab Populer