Rayuan Maut Para Tetanggaku
Kami melewati gerbang pendakian, dan segera disambut oleh hutan hujan tropis yang lebat.
Medan awal didominasi oleh jalan setapak yang ditata rapi, lalu perlahan berubah menjadi tangga batu dan akar-akar pohon besar yang menjulur. Hutan di sini begitu asri, pepohonan besar diselimuti lumut hijau tebal, menciptakan suasana magis.
“Kak Bima, aku baru sadar. Hutan itu indah banget, ya? Rasanya tenang, gak kayak di Jakarta,” bisik Sabrina dari belakangku, napasnya masih teratur.