Aku sering terpesona setiap kali mendengar cerita tentang makhluk seperti jin, ifrit, atau ghul — terasa seperti jendela ke masa lalu yang penuh bayang-bayang dan pasir. Dalam cerita rakyat Arab, banyak makhluk itu berakar dari kepercayaan pra-Islam di Jazirah Arab: orang-orang Bedouin percaya pada roh-roh alam, arwah leluhur, dan makhluk tersembunyi. Kata 'jinn' sendiri berasal dari akar bahasa Arab j-n-n yang berarti 'tersembunyi' atau 'tertutup', menggambarkan sifat mereka yang tak kasat mata. Al-Qur'an memang menyebut jin, sehingga konsep itu melebur antara tradisi lisan rakyat dan teks keagamaan.
Di luar semenanjung, pengaruh Mesopotamia, Persia, dan tradisi Yahudi-Kristen juga memenuhi cerita-cerita ini. Misalnya, gagasan tentang roh jahat, makhluk setengah manusia seperti nasnas, atau entitas berapi seperti ifrit dan marid sering merujuk pada simbolisme dari budaya tetangga yang bertukar cerita lewat perdagangan dan penaklukan. Ghul sering kali adalah cara masyarakat menjelaskan hal mengerikan seperti mayat yang hilang atau orang yang tersesat di gurun; fungsinya moral dan praktis sekaligus: memperingatkan anak-anak agar tidak jauh dari kampung.
Saat membaca ulang 'One Thousand and One Nights' atau mendengar versi rakyat, aku selalu merasa cerita-cerita itu hidup karena mereka menyatukan unsur lokal dan asing, agama dan mitos, ketakutan serta harapan. Sekarang, ketika makhluk-makhluk itu muncul lagi di game atau serial, mereka tetap membawa bau sejarah yang pekat — campuran debu padang pasir, doa, dan dongeng di malam yang panjang.