MAWAR
Entah kenapa kata 'malam' terasa ganjil di pikirannya.
Lalu tiba-tiba langkah Mawar terhenti tatkala dia tidak sengaja melewati dapur dan melihat banyak pelayan yang sedang sibuk di sana. "Ck!" Mawar berdecak, kepalanya di geleng-gelengkan, tampak jengah, "di rumah ini banyak wanita cantik ya?" Sindir Mawar, dia bersedekap tangan dan menatap Nico dengan tatapan sinis. "Pelayan mana lagi yang kau jadikan pemuas nafsumu? Tidakkah cukup pelayan cantik yang kau perawani itu?" Mawar menatap para pelayan wanita itu dengan mata meredup sedih, "mereka datang ke sini untuk bekerja! Dasar berengsek, jika sudah menjadi brengsek tetap saja akan menjadi pria berengsek, kau memang tidak pernah berubah!"