Sekeping Hati yang Bertahan
Wulan mengernyit sedikit, merasa heran dengan perubahan ini, namun tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap netral.
“Pagi, Mas Dimas,” sapa Ana sambil menyunggingkan senyum. “Aku hari ini ada jadwal kuliah agak pagi, jadi akan keluar duluan. Tapi, nanti sore aku akan pulang agak terlambat.”
Dimas mengangguk sambil tersenyum hangat. “Baik, hati-hati di jalan. Jangan terlalu capek.”
“Tenang saja, Mas. Aku tahu batasanku,” jawab Ana ringan, namun ada sesuatu di matanya yang membuat Wulan merasa tidak nyaman.
Hot Chapters