SENDIAKALA
Di atas batu nisan hanya terukir nama lengkapnya dan tanggal lahir serta wafatnya.
Aku berjongkok perlahan di depan makam, hati terasa sesak namun damai. Tak ada kata yang perlu disampaikan dengan suara, semua yang ingin kukatakan sudah ada dalam hati. Aku mulai satu per satu menaburkan bunga mawar merah muda yang kubawa di atas tanah yang tertutup rumput tipis, kemudian Mbak Aiza, Mas Abrisam, dan ibu pun mengikuti langkahku, menyebarkan bunga-bunga mereka dengan hati-hati. Setelah itu, kami berdiri berbaris sambil menunduk, dan doa dipimpin oleh Mas Abrisam yang memiliki suara dalam dan penuh rasa khusyuk.
Hot Chapters