Suami Perkasa
Hanya daster biruyang tergantung di paku dan selembar kain celemek bunga bunga.
Di atas meja, ada secarik kertas. Tulisan tangan Marni, rapi dan halus—tidak seperti tulisan gadis kampung yang biasa.
> “Terima kasih sudah pernah ngasih saya tempat, Tuan. Jangan khawatir, saya gak bakal ganggu lagi. Saya cuma mau hidup yang tenang, tanpa harus merasa salah setiap kali mencintai seseorang.”