Akhir "I Made a Deal with the Devil" sungguh mengesankan saya. Novel ini mengisahkan seorang protagonis yang terpaksa membuat kesepakatan dengan sosok misterius demi sebuah kekuatan atau keinginan tertentu, meskipun dengan harga yang tinggi. Di akhir cerita, setelah menjalani serangkaian cobaan moral dan fisik, sang protagonis menyadari bahwa "iblis" dalam cerita tersebut sebenarnya adalah perwujudan bayangannya sendiri—keputusasaan dan ketakutan yang telah menggerogotinya. Mungkin agak klise, tetapi dieksekusi dengan brilian. Adegan terakhir menggambarkan sang protagonis berdiri di tepi jurang, memilih antara terus belajar dari kesalahannya atau menyerah pada ilusi kekuatan palsu. Menariknya, penulis tidak memberikan akhir yang jelas; pembaca dibiarkan berspekulasi apakah sang protagonis telah benar-benar mendapatkan kebebasan atau terjebak dalam siklus baru. Yang menjengkelkan adalah simbolisme halus di bab-bab terakhir. Misalnya, kontrak yang awalnya ditulis dengan tinta hitam, berubah menjadi merah—simbol darah atau penebusan, tergantung interpretasinya. Klimaksnya tidak sepenuhnya aksi, melainkan lebih merupakan dialog filosofis antara protagonis dan "iblis", yang secara bertahap mengungkap motif sebenarnya. Bagi mereka yang menyukai plot twist, ada adegan di mana karakter pendukung, yang dianggap "orang baik", akhirnya menjadi penjahat tersembunyi. Akhir novel ini terbuka, tetapi justru karena itulah novel ini sering dibahas di forum sastra. Bagi mereka yang menyukai implikasi psikologis dalam latar fantasi, novel ini layak dibaca berulang kali.