MAWAR
Aku melangkah mundur dengan tawaku yang menggelegar "Oh, aku tahu. Dia tidak sekaya diriku heh? Kau wanita yang matre ternyata ya,"
"Wajah lugu dan tingkah polosmu itu hampir membuatku jatuh tahu, tapi sebelum itu terjadi aku sudah melihat sifat aslimu, bagaimana ini? Apa aku masih akan berbaik hati membiarkan mu menguras uang di ATMku, lalu dengan bebas bisa kau hamburkan untuk pria itu?" Aku menunjuk kearah pria yang sudah tidak sadrkan diri dengan wajah yang berlumuran darah, lebam di dada dan beberapa di bagian perutnya.
Mawar hanya menggeleng, air matanya terus mengalir dan dia tidak memberikan penjelasan apapun membuatku berang ingin menghajarnya.