Jiwa Yang Tertukar
Mbak iparku, ada di ruang ini sejak tadi tapi dia lebih banyak diam saat kunjungan dokter tadi.
"E-he ... he ... sedikit, Mbakyu," ucapku sambil menyipitkan sebelah mata lalu ibu jari dan telunjuk membentuk huruf o yang saling tak bersentuhan. Bahwa yang kulupa hanya sak ndulit, sedikit sekali.
"O, pantes."
"Pantes apanya, Mbakyu."
"Pantes dari kemarin manggil aku Mbakyu terus. Biasanya saja cuma Mbak. Apalagi yang kamu lupa?"