Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Ia menoleh, menatap Lian dengan sorot mata yang sedingin es dan penuh otoritas yang tak tergoyahkan.
"Ikatan batin?" Liya terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya bagi siapa pun yang mengenalnya. "Lian, jangan mencampuradukkan sebuah 'kecelakaan' yang memalukan dengan ikatan batin. Kau berada di sini karena sebuah tanggung jawab yang dipaksakan, bukan karena keinginan. Jika kau begitu haus untuk melayani, pergilah ke dapur dan bantu para pelayan mencuci piring. Itu jauh lebih berguna daripada bersandiwara di depan Ibu."