PELAYAN GENDUT TUAN SULTAN
“Maksudnya, kita melanjutkan hubungan yang sempat terjeda. Kau dan aku, Ana. Kita lanjutkan hubungan kita hingga jenjang terjauh seperti keinginannmu dulu. Menikah.”
Aku memiringkan kepala. Mata ini memicing tajam. Menikah? Keinginanku dulu? Jadi, itu hanya keinginanku? Bukankah itu artinya aku yang menginginkan sendiri? Aku yang bertepuk sebelah tangan? Demi Tuhan, hatiku malah semakin sakit. Jadi, sejak dulu aku hanya mencintai sendiri?
Aku menegakkan kepala. Memperbaiki posisi berdiri. Kemudian menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang tiba-tiba sesak. Aku tidak boleh terlihat lemah.
الفصول الرائجة