Desah Di Kamar Sebelah
jadi, kami hanya makan berempat di meja makan.
Mas Anwar terlihat senang sekali dengan hidangan yang kusajikan untuknya. Beliau makan dengan sangat lahap. Dia juga tidak lupa untuk menanyakan Nalen apakah di toko kain sudah makan juga atau belum.
“Sayang, Nalen sudah ditelepon?” tanya Mas Anwar sambil menyendoki nasi dan lauk pauknya. Padahal, menu yang aku dan Rahima buat hanyalah sayur benin, tahu dan tempe goreng, serta perkedel jagung. Namun, Mas Anwar menyantapnya seperti sedang makan di restoran mahal.