Pria yang Menguntitku
Martinus menggertakan rahangnya, urat biru di tangannya muncul, beberapa saat kemudian baru kembali normal.
“Mungkin kunci, maaf ya, kamu terlalu fokus masak.”
“Terimakasih sudah bantuin, perlu nggak aku bantu kipasin?”
Suaranya terdengar sangat tenang, tapi lehernya sangat merah.
Aku dengan marah manja menjawabnya, “Pak Martinus sangat perhatian, tapi nggak papa, bentar lagi sudah mau selesai.”
Sepuluhan menit kemudian, di atas meja terlihat 3 sayur 1 sup.