Sang Pewaris
Beberapa saat, hingga kepala mama mengangguk.
“Oh, iya! Sist Amara. Temannya, Soraya!” mama manggut-manggut. “Kalau begitu, kami permisi dulu, sist, ibu-ibu, assalamualaikum!” buru-buru, mama undur diri, membuatku lega. Aku memang tidak menyukai kumpulan ibu-ibu.
Nenek dan Paman Lukman, yang sudah terlebih dahulu menunggu di mobil, akhirnya bernafas lega, saat melihatku dan mama mendekat. Kami merayakan hari itu, dengan makan-makan.
ตอนยอดนิยม