Kutukan Wasiat Kakek
Di sana, di bawah bayangan pohon besar, kucing hitam itu berdiri mematung, memandangnya dengan mata kuning menyala.
“Ya ampun, meong! Gara-gara kamu, nih,” gerutu Alya pelan sambil mencoba berdiri.
Kucing itu mengeong, tapi suaranya terlalu serak dan dalam, seperti seseorang yang tertawa kecil di tengah tenggorokan kering.
Alya menelan ludah. Ia mengalihkan pandangannya, mencoba mengabaikan. Namun, suara itu tak berhenti, malah semakin mendekat, seperti menggema di telinganya.
Hot Chapters