Mertuaku Adalah Maut
"Baguslah kalau sudah sadar dari kebucinan yang hakiki kamu. Kamu itu seperti pakai kacamata kuda. Menatap lurus saja ke depan."
"Haha ... kalau ya ... Dimas dan aku sama-sama pakai kacamata kuda untuk menatap lurus ke masa depan, tak ada pelakor dan mertua yang merestui pernikahan kedua dari Dimas, pasti gak akan seperti ini jadinya. Ya kami pasti bisa hidup lebih baik. Gak ada namanya perselingkuhan. Berdua mengumpulkan aset untuk masa tua. Terus juga ... kalau diberikan kepercayaan untuk mendapatkan anak, pasti kami lebih siap. Tapi, bagaimana lagi? Takdir berkata lain dan akhirnya malah aku bercerai dengannya." tukas Hesti miris.
"Sudah, jangan menangisi."