NODA PERNIKAHAN
Dengan santai kuraih gelas berisi teh yang baru saja diletakkan Tika di atas meja.
“Huekkk!! Ini teh apa, Tik?” tanyaku, perutku serasa berputar-putar mencium aromanya, buru-buru kuletakkan kembali gelasnya di meja.
“I- itu teh aroma melati, Mbak. Mbak Al nggak suka? Maaf ya, Mbak. Tika nggak tau, biar nanti Tika ganti.”
Aku hanya mengangguk sementara perutku semakin mual seperti diacak-acak tak karuan. Dengan setengah berlari aku keluar dari ruangan menuju toliet kafe, memuntahkan semua isi perutku di sana.