Daster Buat Istriku
paparnya seraya menyerahkan map itu satu persatu kepadaku.
“Hem,” sahutku bergumam, seraya mengamati isi map pertama. Kucoba memahami isinya. Meski sangat asing bagiku, namun aku berjuang untuk paham. Toh, aku juga sudah punya bekal untuk ini. Satu hari semalam, aku sudah belajar banyak dari Pak Alatas. Proposal, Surat perjanjian kerjasama, dan bukti orderan aku sudah tak asing, meski belum paham benar. Setidaknya aku bisa menemukan kejanggalan di dokumen itu bila memang ada.
“Bapak tak perlu terlalu serius membaca dokumen dokumen ini! Toh, ini hanya formalitas, bukan?” Risma menyadarkanku.