Hamil di Malam Pertama
Taklama kemudian, Bik Ijah sudah terlihat ke teras dan tersenyum melihat Fatihah yang begitu akrab dengan pria yang ia duga adalah teman dari majikannya itu.
“Bawa Fatin masuk, Bik!” perintah Vaulin.
“Namanya Fatihah, Non, bukan Fatin!“ Bik Ijah menahan tawa sambil mengulurkan tangannya ke arah bayi berambut keriting itu.
“Ah, biar deh, aku mau manggil dia dengan nama yang gampang disebut saja.” Vaulin melototi Bik Ijah.
“Ayo sama Bibik, Fatihah!” Bik masih mengulurkan tangannya di depan bayi bertubuh semok itu.