Kesayangan Tuan Elian
Matanya berkilat tajam, harga dirinya terusik mendengar nama pria itu disebut-sebut di atas pelaminannya sendiri.
"Duh, Abil... Kamu ini kaku sekali dan takut kalah saing ya? Dengar ya... Kamu memang lebih keren, lebih macho, lebih terlihat 'laki-laki' secara fisik. Tapi dibandingkan Boy? Kayanya dia jauh lebih menarik secara jiwa. Dia punya sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan uangmu."
"Cukup, Nabila," ucap Abil dingin. "Terima kasih sudah datang. Nikmati hidangannya, tapi tolong, simpan opinimu tentang 'jiwa' pria lain untuk dirimu sendiri."