Ada beberapa penulis yang dikenal karena karya mereka yang mengangkat kisah nyata, dan salah satu yang paling menonjol adalah Jon Krakauer. Dia menulis 'Into the Wild' dan 'Into Thin Air', dua buku yang menggali cerita nyata dengan kedalaman dan ketegangan layaknya novel fiksi. 'Into the Wild' mengisahkan perjalanan Christopher McCandless yang meninggalkan segalanya untuk hidup di alam liar, sementara 'Into Thin Air' adalah catatan personal Krakauer tentang tragedi pendakian Gunung Everest pada 1996. Gaya tulisannya detail, emosional, dan mampu membuat pembaca merasa seperti berada di tengah aksi.
Selain Krakauer, ada juga Erik Larson, yang terkenal dengan 'The Devil in the White City'. Buku ini menggabungkan narasi sejarah tentang Pameran Dunia Chicago 1893 dengan kisah pembunuhan berantai yang mengerikan. Larson punya kemampuan langka untuk menyatukan fakta dengan alur cerita yang memikat, seolah-olah kita membaca thriller fiksi. Karyanya sering disebut sebagai 'nonfiksi naratif' karena cara dia membangun atmosfer dan karakter dari peristiwa nyata.
Di Indonesia, kita punya penulis seperti Leila S. Chudori, yang meski lebih dikenal sebagai sastrawan, juga menulis karya berbasis fakta seperti 'Pulang', yang terinspirasi dari sejarah politik Indonesia. Lalu ada Joss Wibisono dengan 'Orang-Orang Bloomington', kumpulan cerpen yang meski fiksi, banyak terinspirasi oleh observasi kehidupan nyata. Kisah nyata memang selalu punya daya tarik sendiri, dan penulis yang bisa mengolahnya dengan baik akan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.
Yang menarik, kisah nyata tidak selalu tentang petualangan atau tragedi besar. Seperti karya-karya Ayu Utami atau Andrea Hirata, yang meski fiksi, sering kali diangkat dari realita sosial. Tapi jika mencari murni nonfiksi, buku-buku seperti 'The Immortal Life of Henrietta Lacks' oleh Rebecca Skloot atau 'Hidden Figures' oleh Margot Lee Shetterly juga layak dibaca. Mereka membuktikan bahwa fakta bisa lebih mencengangkan daripada imajinasi.