Tolong Perlahan, Dokter Nate!
Di layar, dokumen naskah barunya terbuka—judulnya: “Teach Me How, Doctor!”
Tangannya mulai menari di atas keyboard, menuliskan kalimat pembuka dengan semangat baru. Tapi kali ini, bukan hanya fiksi—melainkan riset yang akan ia jalani sendiri.
Sementara di sisi lain kota, Nathan berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap langit malam dengan ekspresi sulit dibaca.
Di tangannya, segelas wine bergetar halus. Ia menarik napas panjang, namun dalam benaknya, wajah dan keberanian nona penulis dewasa itu masih membayang jelas.