Ada beberapa penulis yang karyanya selalu muncul dalam obrolan tentang novel sejarah. Ken Follett dengan 'The Pillars of the Earth'-nya itu masterpiece banget—gimana dia bisa bikin cerita tentang pembangunan katedral di abad pertengahan jadi seru kayak thriller politik. Tapi jangan lupa sama Hilary Mantel, yang trilogi 'Wolf Hall'-nya bikin era Tudor hidup dengan sudut pandang Cromwell yang jarang diangkat.
Di sisi lain, Eiji Yoshikawa lewat 'Musashi' berhasil bikin novel samurai bukan sekadar pertarungan pedang, tapi juga filosofi hidup. Karyanya masih jadi acuan buat yang suka cerita Jepang klasik. Kalau mau yang lebih kontemporer, mungkin Andrea Hirata dengan 'Laskar Pelangi'-nya, meski bukan sejarah murni, tapi punya elemen nostalgia era 70-an yang kuat.