Wiro sang Penakluk
Cintami mengerang lebih keras, kepalanya terdongak ke dinding, bibirnya terbuka lebar.
Mereka terus berciuman mesra di antara desahan—bibir saling bertemu lagi, lidah saling menari, napas saling bercampur panas. Ciuman itu tak pernah putus lama, hanya terputus sesaat ketika salah satu dari mereka mengeluarkan erangan atau bisikan nama satu sama lain.