Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

"Tentu, Pak." Tak lama setelah bertanya seperti itu, pelayan di penginapan ini menyuguhkan dua gelas sarabba', minuman sejenis wedang jahe jika di luar Sulawesi. Hangat dan nikmat. Setelah menyeruputnya, rasa panik berangsur-angsur hilang.
1010.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 378 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
BAU MASAKAN DI TENGAH HUTAN

BAU MASAKAN DI TENGAH HUTAN

Namun saat bayangan terpantul dari kaca, terlihat wujud yang sebenarnya Aku teringat oleh Mahluk yang kala itu menyerang Tania. Wajahnya hampir sama dengan Putri, perbedaannya mahluk itu bersuara seperti laki-laki. Orang di kampungku menyebutnya Orang Pandak, dia memiliki tubuh kecil di penuhi bulu. Memiliki taring panjang dengan lidah yang menjulur. Kakinya kecil seperti kaki anjing. Hanya saja telapak kakinya terbalik
1013.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 484 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Pendekar Golok Melasa Kepappang

Pendekar Golok Melasa Kepappang

"Persis seperti itu Nadir! Mahluk misterius yang kulihat itu memiliki kaki terbalik dengan tumit berada di depan. Sedangkan tubuhnya dipenuhi bulu berwarna kecoklatan." "Demi Sang Buddha! Uhang Pandak!" Untuk kesekian kalinya Aditya terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Nadir. "Uhang Pandak? Apa itu Uhang Pandak?" "Kak Aditya, dari cerita turun temurun dikeluargaku, Uhang Pandak diceritakan sebagai orang pendek nan sakti yang katanya tinggal si sekitar Danau Gunung Tujuh, Kerinci."
1019.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 576 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Tawanan yang Menawan

Tawanan yang Menawan

Saat dia hampir mencapai pondok tua di ujung desa, seorang pemuda dengan ikat kepala menghadangnya. “Tuan,” ujarnya dengan hormat yang berlebihan, “apakah kau membawa kabar dari gunung?” Wirya menggeleng, tidak mengerti. “Aku hanya mencari tempat untuk beristirahat.” Pemuda itu mengangguk, lalu dengan sikap hormat yang masih terasa berlebihan, ia memperkenalkan diri. "Namaku Pandu, Tuan. Izinkan aku mengantarmu ke pondok itu."
1015.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 493 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Istri Mungil Dosen Tengil

Istri Mungil Dosen Tengil

Mereka sudah berada di warung lalapan langganan sewaktu kuliah dulu. “Lo….” “Rindu. Tarik nafas. Tahan. Buang. Ingat, Pandu itu adalah spesies paling aneh yang hidup di abad modern seperti ini. Sebagai manusia teladan, lo harus menahan diri, okay?” Miquel menahan tangan Rindu agar tidak beranjak pergi dan menghajar Pandu. Mereka ini sedang di tempat umum. Di tempat makan pula. Jadi orang-orang pasti akan memarahi mereka jika berbuat onar.
1025.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 766 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Pandu Kesatria Genda Yaksa

Pandu Kesatria Genda Yaksa

Pandu bangkit dan langsung berlalu dari hadapan ayahnya. Sebelum berangkat ke ladang, Pandu terlebih dahulu melaksanakan titah ayahnya untuk menemui Kuwu Sangkan di kediamannya. Pandu berjalan menyusuri jalan setapak melewati perkebunan rempah milik warga, jarak kediaman Kuwu Sangkan memang tidak terlalu jauh dengan lokasi ladang milik ayahnya. Namun, untuk sampai ke rumah tokoh nomor satu di desa tersebut harus melewati perkebunan rempah dan hutan kecil yang sepi.
1022.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 498 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Janda Kembang

Janda Kembang

cecar lelaki tersebut dengan suara yang lantang. "Janda mandul! Berani bawa masuk laki-laki yang bukan muhrimnya ke dalam rumah!!" imbuhnya. "Wira! Apa-apaan kamu!" bentak Thalisa dengan wajah yang terlihat marah. Arden yang tidak tahu apa-apa harus menanggung malu juga karena kedatangan Wira dan juga ibu-ibu tersebut. "Janda mandul! Pergi kamu dari sini! Dasar pezina!! Tidak tahu malu!"
9.88.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 214 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Dipandang Rendah Mertua

Dipandang Rendah Mertua

Masuk kedalam melewati jalan yang rusak yang sangat becek dan melewati kebun karet sejauh 2 kilo. Disitu aku melihat memang acaranya mewah kursi tamunya banyak, dan ada hiburan biduan yang berjoget sekitar 15 biduan. Aku sejak tadi menemani Mbak Luluk diatas kursi rodanya, aku perhatikan orang-orang yakni keluarga Yesi menatap heran kearah Mbak Luluk.
1035.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Duda Tampan Canduku

Duda Tampan Canduku

tanya wanita tua dengan penampilan memakai baju kebaya berwarna kuning khas jawa dengan kain batik berwarna coklat hitam tidak lupa rambutnya yang terpasang sanggul berwarna hitam kecoklatan. "Walaikumsallam, Alhamdulillah aku baik jeng, mari silakan duduk, dimana Vera?" "Sebentar lagi akan sampai dengan papahnya!" Ardian memasang senyum palsu di wajahnya, ia merasa berat untuk melakukan perjodohan yang tidak mungkin ia lakukan sementara ia sudah memiliki istri. "Nah itu dia!" tunjuk wanita tua itu ke arah wanita yang datang bersama seorang pria yang Ardian kenal sebagai Aidin.
1014.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 391 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Gundik Bangsawan Belanda

Gundik Bangsawan Belanda

Entah kenapa ia tidak menyukai cara Pieter yang menilai Lana berdasarkan jenis kelamin semata. "Dia seorang bangsawan juga." "Bangsawan atau tidak siapa yang peduli. Dia datang sebagai seorang gundik, maka harus bersikap layaknya gundik. Tidur dan melayaniku hingga puas, menjadi tameng bagiku serta menghasilkan keturunan. Selama dia ada di dalam genggamanku, maka selama itu juga ia akan disebut sebagai gundik."
1012.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 310 kali sebagai pandu wayang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status