Tumbal Purnama
Namun, di belakang mereka, suara lain terdengar dari sudut kamar, suara napas kecil yang tidak wajar.
Lila dan Bima berbalik serentak, dan mereka melihat Arga, yang kini tidak menangis lagi, tetapi menatap mereka dengan mata yang bukan miliknya. Mata bayi itu berkilau seperti cahaya bulan, penuh dengan keanehan.
"Arga?" Lila berbisik dengan suara patah.
Bayi itu tersenyum tipis, lalu dengan suara serak yang tidak mungkin berasal dari anak sekecil itu, ia berkata, "Purnama baru saja dimulai."
Sikat na Kabanata