Pesona Istri Yang Kuabaikan
"Aku ini ibarat musafir yang telah melewati perjalanan panjang, aku kelelahan, kehausan dan kelaparan. Lalu kamu menawarkan air minum dan juga makanan, aku sudah merapalkan doa, sudah mencium wanginya makanan itu tapi kamu malah mencegahku untuk melanjutkan memakannya. Apa itu tidak kejam? Kamu menyiksaku, Husniah."
Pandai sekali Mas Hanan membuat perumpamaan, sejak kapan dia belajar kata-kata kiasan seperti itu. Aku diam, enggan menanggapi ucapannya.
"Kamu masih tidak percaya padaku, aku sedang ingin menyerahkan diri padamu, Nia."
Kutekan mukanya makin menjauhiku sambil berseru. "Harusnya itu menjadi dialogku!"
Tawanya sedikit bergema. Apakah aku lucu?