Wanita Bercadar Itu, Istriku
Ternyata, efek dari mantan istri pertamaku masih sangatlah besar karena aku memang tidak bisa benar-benar melupakannya.
"Dia juga jadi wanita sukses, Pa. Khanza pemilik butik yang cukup terkenal di kota ini." Aku tertawa getir. "Mereka lebih bahagia tanpa Emir ya, Pa."
"Sudah, jangan membahas masa lalu lagi. Sekarang kamu fokus saja sama karir seperti kedua mantan istrimu itu," ujar Papa menepuk bahu ini.
Ya, Papa benar. Lebih baik aku memfokuskan diri pada pekerjaan agar bisa melupakan bayang-bayang masa lalu, meski terkadang rindu pada salah satu dari mereka datang tak tahu malu.