Samaran Terakhir
Seolah pena itu memiliki jiwa sendiri, berdenyut dalam genggamannya, mengalirkan memori dan perasaan yang lama terkubur.
"Pena ini..." bisiknya, matanya menyapu hutan yang sunyi, hanya suara dedaunan yang berbisik pelan. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
Angin malam menerpa wajahnya, membawa serta aroma basah tanah dan daun kering. Adrian menutup matanya sejenak, mencoba memahami kehadiran bayangannya sendiri. Ia tahu, ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan ke dalam jiwanya yang paling dalam, tempat di mana ketakutan, penyesalan, dan harapan bercampur menjadi satu.