여기 penyamaran orang kaya와 관련된 100개의 소설이 있습니다. 일반적으로 penyamaran orang kaya와 같은 이야기는 Romansa, Urban 및 Rumah Tangga 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Di Antara Aku, Ibuku, dan Mantan Suami Musuhku부터 시작해보세요!
Kalimat Marwa barusan menyulut rasa penasaran baru.
"Oh, kamu sekarang sudah kaya, ya?" tanya Bu Nurma, nada suaranya menggoda. "Pasti kamu sudah menikah dengan orang kaya. Makanya bisa membeli rumah."
Marwa mengangkat alis, lalu menjawab dengan nada datar namun penuh wibawa.
"Saya belum menikah, Bu. Tapi saya memang sudah kaya. Untuk menjadi kaya itu kuncinya adalah harus bekerja keras. Bukan hanya harus menikah dengan orang kaya."
"Apakah orang kaya itu mengejarmu, Sally?"
Sally sedikit terkejut ketika wanita lain berkata, “Tentu saja dia! Dia sangat kaya dan tampan, jadi mengapa dia membantumu jika dia tidak berusaha mengejarmu? Itulah sebabnya aku pikir dia pasti mencoba merayumu! Kamu harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik!”
"Omong kosong macam apa yang kalian bicarakan?!"
Setelah jawaban centil, Sally tetap diam.
sambung pemuda lain yang berdiri di sebelah Intan.
"Apakah orang membawa kamera itu berarti orang kaya? Tak semuanya seperti itu! Bahkan saya tak punya apa-apa. Kalian yang lebih kaya daripada saya, kalian punya rumah kardus. Saya sendiri tidak! Jika punya itu pun milik orangtua saya. Apa yang perlu dibanggakan? Toh kekayaan itu bukan milik saya," Dewa berucap dengan bijak.
Dari mana dia mendapatkan pengetahuan jika orang kaya bisa menyelesaikan semua masalahnya dengan uang?
"Aku tidak salah paham, Mas. Apalagi yang ada di dalam pikiran orang kaya seperti Mas ini? Mas punya banyak uang, kan? Aku mengenal karakter orang kaya, meskipun selama tinggal bersama keluarga El Fata aku tidak menemukan kesombongan di dalam diri dua orang pria pewaris bisnis keluarga itu. Mereka tidak pernah menganggapku sebagai seorang pembantu."
Rahangnya mengencang sebelum akhirnya ia berkata, "Aku hanya tidak menyangka kau berpikir seperti itu."
Amara menoleh, mengernyit. "Maksudmu?"
Laksha menarik napas panjang, seakan menahan sesuatu yang enggan ia ucapkan. "Bahwa orang kaya tidak mengerti kesulitan hidup."
Nada suaranya datar, tetapi ada ketajaman yang terselubung di sana.
Amara mengusap pelipisnya, memilih kata-kata dengan hati-hati.
Di matanya, bahkan cara ia berjalan adalah pamer.
"Tidak apa-apa, itu hanya beberapa orang kaya dengan uang. Mereka hanya merasa kasihan karena baru saja mendapat uang," paman Zheng Xiaoman menambahkan, mencoba menenangkan diri atas amarahnya sebelumnya.
"Kaya? Saya tidak berpikir mereka begitu kaya," sepupu ketiga Zheng Xiaoman berkata dengan cibiran saat mereka tiba di tempat parkir. "Membuka toko seribu meter persegi dan mengendarai mobil murah dua ratus ribu yuan? Semuanya omong kosong!"
Dia saja yang sudah tidur sekasur selama satu minggu, belum bisa mengorek apapun soal pria itu.
Satu yang pasti, Arch bukan pria miskin tanpa aset. Justru mereka yang terlampau kaya, biasanya hanya diam, tanpa perlu pamer berapa banyak harta yang mereka miliki.
Beda dengan orang kaya baru yang sebentar-sebentar flexing, mereka ingin show off supaya dapat pengakuan soal status mereka.
"Kamu itu mabuk atau kenapa? Apa yang sekarang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu. Satu lagi, aku tidak akan kembali padamu, apalagi bercerai dengan suamiku."
"Pasti sangat banyak. Aku pasti belum pernah memegang uang sebanyak itu. Sungguh, dia tidak terlihat seperti orang yang sangat kaya. Sebaliknya, dia tampak biasa saja. Tidak ada satu barang pun yang melekat di tubuhnya terlihat menonjol."
"Itu artinya, dia pria yang rendah itu. Yang memang seperti itulah orang yang benar-benar kaya. Mereka tidak berpikir untuk menunjukkan atau memamerkan kekayaan."
"Tuan Jack, aku benar-benar minta maaf. Aku sangat bodoh karena terpengaruh oleh cerita pelayan ini. Aku sungguh menyesal sudah bersikap kurang ajar padamu." Mario membungkuk sangat rendah. Dia tidak berani menatap Jack dan lebih memilih menenggelamkan pandangannya ke lantai, seolah di sana terdap
Dia melihat sekitar dan berbicara sedikit keras agar orang-orang yang ada di restoran itu melihat ke arah mereka.
“Nyonya Hart yang terhormat, orang kaya tidak pernah memamerkan kekayaannya apalagi sampai menghina seseorang tapi jika orang kaya itu hanya memiliki kekayaan yang tidak seberapa, barulah akan menghina orang lain supaya orang memuji kekayaan yang dia miliki. Apakah nyonya termasuk orang kaya seperti itu?”
“Kurang ajar. Apa kau pikir aku orang kaya baru?”
Lalu cuma bilang satu kalimat sebelum lanjut lari:
“Pas banget. Payung mahal cocok buat orang kaya kayak kalian.”
Kevin cuma bisa melongo.
Sepanjang hari itu Kevin down parah. Kuliah nggak konsen. Ray sama Dito sampai khawatir.
“Lo kenapa Vin? Kayak orang putus cinta padahal belum pacaran,” kata Ray sambil nyodorin Starbucks.
“Aku ditolak payung, bro. Ditolak payung 200 juta.”
Dito langsung ngakak sampe batuk-batuk. “Gila, itu rekor baru dunia ditolak cewek!”