Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pengantin Tanpa Hati

Pengantin Tanpa Hati

Setelah beberapa detik hening, ia berkata dengan nada pelan, hampir menyerah, “Baiklah, Nak, kalau kamu tidak mau. Papa tidak akan memaksa lagi. Mungkin Papa terlalu egois berharap kamu mau mengabulkan permintaan terakhir Papa.” Kata-kata itu bagai palu yang menghantam dada Aksa. Ia terdiam, tak mampu membalas apa pun. Pandangan ayahnya yang penuh rasa kecewa dan sedih justru membuat pikirannya semakin kacau. Ia memalingkan wajah, tak sanggup menatap Arya lebih lama. “Pa jangan bicara seperti itu. Papa nggak akan meninggal, kita akan pergi keluar negeri untuk berobat. Pasti Papa sembuh," ucapnya, masih keberatan dengan ide gila ini.
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Pagi Baru Tanpa Dirimu

Pagi Baru Tanpa Dirimu

Dengan suara serak, dia berkata, "Aku bahkan sempat berpikir buat ninggalin semuanya demi kamu. Aku benar-benar bodoh. Kamu sama sekali nggak pantas!" Dia mengusap air mata di wajahnya dengan kasar, lalu mengeluarkan surat perjanjian perceraian dan membubuhkan tanda tangannya. "Besok kita ke kantor catatan sipil!" Setelah mengatakan itu, dia melemparkan dokumen tersebut ke arahku sebelum berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Harvey meletakkan tangannya di bahuku. Aku menoleh kepadanya lalu berkata pelan, "Aku nggak apa-apa."
3.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Pergi Dari Belenggu Cinta

Pergi Dari Belenggu Cinta

Lalu, aku mengambil ponsel dan memesan tiket pesawat untuk pulang. Kemudian, aku mengirimkan pesan singkat pada pengacaraku. [Siapkan surat cerai. Yoel selingkuh dan pastikan dia keluar tanpa mendapat sepeser pun.] Di luar pintu, telepon Yoel tersambung. Suara makian ibunya begitu kencang sampai aku pun bisa mendengarnya dari dalam kamar. “Yoel, dasar anak kurang ajar.”
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Hari-hari Dimanjakan Paman

Hari-hari Dimanjakan Paman

Maksud ucapannya bukan seperti itu . Terkadang, gadis ini seperti tidak berperasaan. "Paman, lanjutkan saja kesibukanmu. Aku akan jalan-jalan di sana," kata Pamela. Dia ingin pergi berkeliaran sendirian ke depan. Dia merasa sangat bosan, jadi dia ingin pergi melihat beruang itu .... "Kamu nggak boleh pergi ke mana pun. Pergi tidur dengan patuh!" kata pria ini dengan suara yang rendah dan tegas.
9.51.4M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32.3K kali sebagai pergi tanpa pamit
Tampilkan Ulasan (267)
Baca
+Pustaka
Mei Ika
aku dh bca pamela, kalana dan agam udah diganti lagi cerita tentang jonson dan di ganti lagi dg philips.. syngnya cerita philips cuma aku baca sebentar. aku kira author bakalan nyelesaiin cerita pamela yg menurut ku belum selesai. teka teki yg belum terpecahkan. tapi sudah di ganti2 pemeran
Anava
Agam dan Pemela menikah lagi dan bulan Madu di bab 1895-1898 (Keluarga berkumpul kembali) loveeee... bgt .... Author sangat pandai membuat hati bertalu², emosi, bahagia benar² bisa membuat pembaca larut dalam kisah... Bikin cerita lagi dong Thor, tp jangan panjang² episode nya ...
Baca Semua Ulasan
Obsessed

Obsessed

Tidak ada kata maaf. Tidak ada kata jangan pergi. Hanya kalimat yang terdengar dewasa dan dingin. “Mungkin kita memang nggak satu arah lagi.” Lingga menarik napas panjang. Ia mengetik: “Aku berangkat hari ini.” Ia menatap layar itu. Menghapusnya. Ponsel dimasukkan ke saku. Boarding dimulai. Ia berjalan tanpa menoleh.
947 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Kekasihku Dokter Tampan

Kekasihku Dokter Tampan

"Emm.. lo gak apa-apa pulang sendiri?" "Gak apa-apa Re, tapi gimana ya gue mau pamit sama nyokap lo nih!" kata Citra memandang ke arah Regan, Tiara dan Nita memang sedang tidak ada di sini. "Udah kalau mau pulang, pulang aja nanti kalau nyokap gue tanya gue yang bilangin kalau lo udah pulang." "Gue mikirin lo masa sendirian di sini."
109.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 209 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
SENJA YANG KELABU

SENJA YANG KELABU

tumben chating aku Angkasa : Kamu ada waktu sekarang, saya lagi makan diresto ayam bakar Sari : Maaf, Ang, aku tidak bisa keluar, orangtuaku sedang pergi, ada acara dikantor ayah, kemungkinan pulang tengah malam, jadi aku disuruh dirumah Angkasa : Jagain rumah..hehehehe Sari : Bisa dibilang begitu, ya bisa saja sih aku keluar tapi aku kan belum ijin, kalau ijin ditelpon gak enak juga Angkasa : ya udah jangan, nanti kamu dimarahin Sari : Ayah sama Bunda baik kok, gak akan marah kalau aku keluar, asal aku kirim pesan saja, tapi tetep gak enak buatku, karena tidak biasa pergi kalau gak pamit langsung
4.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 128 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Noda Di Balik Cadar sang Ustadzah

Noda Di Balik Cadar sang Ustadzah

Zahra menunduk, "Mas Ridwan berpamitan dengan Fatih, dan menangis karena rasa bersalah pada Fatih, Tiba-tiba memegang dada kiri dan pingsan, Mah!" "Kenapa pamitan?" tanya Mama Sofiya. Pamitan adalah kata yanga mengganjal dalam hati Mama Sofiya. Pamitan berarti akan berpisah. Jika sudah diberi kesempatan, tentu Ridwan tak perlu pamitan, mereka akan bersama selamanya. "Fatih akan berangkat ke Tarim, Mah melanjutkan pelajarannya!" jawab Zahra. Deg!
1028.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 956 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Kepergian Tanpa Tanggal Pulang

Kepergian Tanpa Tanggal Pulang

lagi? Sungguh konyol sekali. Aku menarik kembali tanganku, seringai tipis muncul di sudut mulutku, aku mengucapkan kata demi kata, “Sudah kukatakan sejak awal, sejak kalian meninggalkanku, kita tidak punya hubungan apa pun lagi.” “Jangan gunakan kasih sayang keluarga untuk mengikatku, kalian tidak pantas mendapatkannya.”
6.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 246 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Pelangkah Tanpa Syarat

Pelangkah Tanpa Syarat

Saat kejadian sebelum kepergian gadis itu ke alam baka, ia terakhir kali sedang bersama dengan Abid sebagai pacarnya. Ismawati pamit mengikuti ajakan Abid untuk pergi berdua saja kepada ibunya. Tanpa rasa curiga sedikit pun, sang ibu mengizinkannya karena ia sudah biasa. “Ya, pergilah! Hati-hati di jalan, jangan lama-lama! Sebentar lagi waktunya kamu ngaji!” kata sang ibu waktu itu.
104.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai pergi tanpa pamit
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status